Anonymous
Saya biasa memanggilnya dengan sebutan “Yang”. Kata yang sangat familiar bagi saya dan Dia. Ia adalah orang yang ketiga kalinya yang saya anggap sebagai kekasih, dan merupakan orang yang pertama yang mengenalkan kepada saya makna rasa sayang yang mendalam. Manusia tercantik yang pernah saya temui, hati dan parasnya. Ia yang selalu saya idolakan sejak saya memasuki masa perkuliahan, dan saya benar-benar menyayanginya.
1 tahun 9 bulan hubungan kami berjalan diam-diam dan hanya beberapa orang yang tahu. Namun entah apa yang ada di pikiran saya setelahnya hingga tercetus kata “putus”. Sikapnya yang mulai tidak bisa diterima oleh pikiran saya membuat saya yakin berpisah ada adalah jalan yang terbaik.

1 hari, 2 hari, 3 hari, dan seterusnya saya menjalani hidup tanpa dia. Tak ada lagi kasih sayang. Saya pikir ini hanya sementara dan bisa saya lupakan beberapa hari ke depan. Ternyata tidak. Semakin parah, setiap kenangan tiba2 menampakkan diri di kepala. Tidak jarang kaca saya bermata-mata *apaan sik*
Saya pikir ini sangat amat menyakitkan. Konsentrasi saya buyar. Saya tidak bisa mengerjakan apapun, terutama skripsi. Saya pun kembali berfikir untuk tidak membiarkan kesedihan saya berlarut2. Pikiran saya pun menuju kepada membina kembali hubungan saya yang telah hancur. Dan perjuangan saya pun dimulai…

Beberapa hari setelah ia berulang tahun, saya terus menelponnya tapi tak pernah ada jawaban. Saya mengulanginya hampir setiap hari, tapi kembali tidak pernah ada jawaban. SMS atau BBM tidak pernah ada balasan. Tapi saya mencoba berfikir positif, “mungkin ia sedang sibuk”, “mungkin ia sedang banyak masalah”
Hingga akhirnya tercetus di pikiran saya untuk bisa membuat dia tersenyum. Lalu, dengan penuh semangat saya mencoba mengiriminya setangkai mawar pink yang saya beli dengan perjuangan. Saya juga mengemasnya, tepat setelah skripsi saya berhasil dikumpulkan. Hingga pukul 2 pagi saya masih mengemasnya dengan penuh semangat. Besoknya saya kirimkan, dan dapat dipastikan hanya berselang 1 hari paket itu pasti sudah diterima.

Hari dimana bunga tersebut tiba. Setiap detik saya menanti responnya dengan perasaan was-was. Tapi entah mengapa hingga sore hari, respon itu tidak ada. Nihil. Saya kembali mengirim pesan via BBM apakah bunganya sudah diterima, apakah ia menyukainya. Namun, jangankan ada balasan, dibaca saja tidak. Saya masih berfikir positif jikalau ternyata memang saat itu ia tidak memegang HP nya. Ternyata tidak, ia bisa membuat status baru di BBM nya, dan mengganti fotonya di BBM.
Saya tidak bisa menyembunyikan perasaan saya saat itu. Bibir saya bergetar. Hati saya perih. Pikiran pun carut marut. Ada perasaan bingung, apakah saya menyakiti perasaannya atau membuatnya malu hingga ia bersikap seperti ini. Saya juga telah mengirimnya pesan di facebook, tapi tak pernah ada balasan.
Saya merasa bingung, dan saya rasa bertemu dan mengkomunikasikan segalanya adalah solusi yang tepat. Sekaligus untuk mempertanyakan, apakah hubungan kami masih bisa kembali seperti dulu. Terlebih ia tak pernah lagi menjawab telepon dan semua pesan saya, kemudian tercetuslah pemikiran untuk membuat sebuah surprise kedatangan saya untuknya. Sehingga suatu hari saya beranikan diri untuk pergi ke daerahnya yang berjarak lumayan jauh dari Depok. 3 jam lebih kurang untuk bisa sampai di sana. Saya tidak sendiri, hamburger peron UI yang pernah menjadi kenangan kami, ikut bersama saya. Serta sebuah kado ulang tahun yang besar dan merupakan hasil jerih payah saya untuk bisa memilikinya juga ikut menemani.

Saya berada di depan kantornya persis, menunggu saat ia pulang. Namun, SMS dan BBM yg saya sampaikan tidak dibalas. Telpon berkali-kali pun tidak diangkat. hingga akhirnya terdapat satu SMS balasan darinya setelah saya berkali-kali mengirim sms untuknya:
Hai Noval, sorry bgt ga bisa nemuin lo ya..Hari ini gw ga masuk kantor dan lg ada di tempat yg lumayan jauh dri tempat lw skg :)
Saya pun kemudian mengirim SMS bertubi-tubi mempertanyakan apakah boleh saya ke tempatnya, karena jauhnya ia berada saat itu bukan suatu masalah bagi saya. Tapi tetap tidak ada jawaban. Saya juga terus menelponnya, juga tetap tak diangkat, hingga pada suatu saat telpon dari saya direject. Satu kali ia mengangkat namun langsung diputus. Kemudian HP nya sengaja dimatikan. SMS saya tidak ada yang masuk. Namun, karena ia memiliki 2 HP yg berbeda, saya masih bisa mengirim pesan via BBM.
Hingga akhirnya ia pun merespon BBM saya dengan melontarkan pernyataan
kenapa jadi lo yang marah. Salah sendiri ga ngasihtau kalo mau dateng. Lagian PD banget gw akan ada disitu skg
Yang perlu saya perjelas adalah saya ingin membuat kejutan, sebuah surprise yang tidak diketahui olehnya sebelumnya. Teringat dulu saya pernah memberikan surprise dengan datang ke daerahnya untuk pertama kali dan memberikan kotak makan sebagai hadiah. Ia tersenyum bahagia dan masih terheran-heran, senang rasanya melihat senyum itu. Saya pikir saya akan mendapatkan senyum itu untuk ketiga kalinya, tapi ternyata dugaan saya salah.
Memang tidak dapat dipungkiri memang saya yang salah, saya terlalu percaya diri ia ada disana. Yah memang itu konsekuensinya memberikan kejutan semacam ini.
Ia juga mengatakan bahwa saya terlalu mencampuri urusannya. Bahwa weekend dia juga punya acara.
Saya pikir tidak masalah apa ia punya acara atau tidak di waktu weekend. Saya pikir juga tidak ada hubungannya dengan saya. Namun yang saya sesali adalah sikapnya menghindari saya. Tidak habis pikir kenapa ia harus sebegini teganya menghindari saya. Kenapa tidak diangkat saja teleponnya, bilang bahwa ia tidak bisa menerima saya saat ini. Kenapa tidak mengatakan langsung ke saya, bahwa ia tidak lagi menyukai saya. Katakan apa yang menjadi salah saya sehingga ia seperti ini. Tapi ia lebih memilih untuk bungkam, sekalipun apa yang telah saya lakukan kepadanya, sepertinya hal ini tidak berarti untuknya.
Balasan yang saya kirim dari BBM tersebut untuknya memang banyak yang tidak pantas untuk dilontarkan. Karena memang tidak lepas dari sakitnya perasaan saya saat itu melihat semua tanggapan dan sikapnya. Emosi benar-benar memuncak saat itu. Apabila ia melihat tulisan ini, saya hanya bisa meminta maaf dari hati yg terdalam.

Jujur, saya tidak pernah membencinya dan tidak akan pernah membencinya. Sekalipun ia telah menyakiti saya seperti ini. Dan yang saya tahu, kenangan itu tetap terus ada dan tak akan pernah hilang. Mungkin saat ini ia pergi, tapi bukan berarti ia sepenuhnya pergi dari hati ini. Dan sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa mengganti posisinya di hati ini. Saya akan selalu menyayanginya.
Tapi saya mengerti, di dunia ini apa yang kita inginkan bukan berarti akan selalu kita dapatkan. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, ikhlaskanlah, yakinlah Allah akan memberikan gantinya dengan yang lebih baik lagi. Dan selalu bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepada kita.
Seperti pada apa yang telah Allah berikan kepada saya, ia menggantinya dengan lebih baik lagi: dua orang sahabat yang luar biasa, teman bermain S.Eperlambatan yang selalu ada di kala diantara kami senang atau susah, gelar sarjana, pekerjaan menjadi editor buku, ataupun pekerjaan yang saya dapatkan saat ini, hanya berselang 5 hari setelah wisuda dilakukan. Terima kasih ya Allah, Engkau memang baik :)
Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang saatnya untuk menjalani masa depan. Bismillah :)
…I know I can’t drown forever
I’ve got a life that I have to deal with
I believe that life keeps on turning……Losing you is not the end of the world…
Mocca - Life Keeps On Turning
Hello Sob,
Buat lo yang merasa mahasiswa, ada berita keren nih. Temen gue yaitu Noval (Manajemen UI ‘07) membuka pre-order T-Shirt FYM. Detail desainnya bisa lo pilih di bawah ini. Kalo udah milih, lo bisa langsung order dengan ngisi formulir pemesanannya di http://bit.ly/formkaos
Kalo…
(Source: fuckyeahmahasiswa)
Walaupun…hubungan kami sangat dirahasiakan
saya tetap menyayanginya
Walaupun…ia di Jakarta dan saya di Depok
saya tetap menyayanginya
Walaupun…ia satu tahun lebih muda daripada saya
saya tetap menyayanginya
Walaupun…6 bulan bulan adalah waktu yang lama untuk sebuah hubungan
saya tetap menyayanginya
Walaupun…beberapa bulan terakhir ia sangat sibuk
saya tetap menyayanginya
Walaupun…pesan singkat saya jarang untuk dibalas
saya tetap menyayanginya
Walaupun…dia jarang mengangkat telepon dari saya
saya tetap menyayanginya
Walaupun…ia mengatakan jenuh dengan saya
saya tetap menyayanginya
Walaupun…ia selalu memiliki waktu dengan temannya dan tidak untuk saya
saya tetap menyayanginya
Walaupun…kami jarang sekali bertemu
saya tetap menyayanginya
Walaupun…jarang sekali baginya untuk menghubungi saya
saya tetap menyayanginya
Walaupun…ia sering membuat saya sedih
saya tetap menyayanginya
Walaupun…saya mencoba untuk mengerti dia dan tidak untuknya
saya tetap menyayanginya
Walaupun begitu, saya tidak tahu hingga kapan saya akan terus menyayanginya, apabila keadaannya terus begini…

Don’t cry over the past, cry to get over the past. Don’t smile to hide the pain, smile to heal the pain
voltaire (via duaenamjuli)